Merry Rian, Konsultasi Keuangan
Merry Rian, Konsultasi Keuangan

Jakarta, BNP2TKI (9/3) Membaca cerita sukses Merry Riana, kita seperti melihat keajaiban. Dia mampu mengumpulkan kekayaan sebesar S$1,000,000 (sekitar Rp 7 milyar), hanya empat tahun sesudah menuntaskan kuliah dengan gemilang di Jurusan Electrical dan Electronic Engineering di Nanyang Technological University (NTU), Singapura.

Dia kini memimpin 50-an konsultan dan manajer di bidang konsultasi keuangan dan sebagian besar di antaranya warga Singapura. Dia juga meraih berbagai penghargaan, baik di saat kuliah maupun setelah menjadi wirausahawan. Bahkan, dialah motivator wanita termuda di Asia dan menghasilkan buku laris “A Gift from A Friend” yang diterjemahkan ke dalam tujuh bahasa.

Pada diri Merry, keajaiban datang dari perpaduan visi, tindakan, dan hasrat. Dalam diri perempuan kelahiran 29 Mei itu, visi tak lepas dari kecintaan dan penghormatannya yang mendalam kepada orangtua yang telah mendidik sekaligus membesarkannya dengan segala upaya hingga menjadi orang sukses.

Sebagai anak yang berbakti, dia memang bermimpi untuk membalas kebaikan orangtua dengan memberi mereka kebahagiaan. Tapi Merry sadar, dia hanya bisa membahagiakan orangtuanya di saat mereka masih sehat dan relatif muda, bukan setelah mereka tua dan sakit-sakitan. Hal itulah yang menguatkan tekadnya untuk sukses dan kaya di usia muda. Maka, sulung dari tiga bersaudara ini pun rela merantau sendiri ke Singapura.

Ayah-ibu Merry memutuskan mengirim putri sulungnya ini untuk menuntut ilmu ke Singapura, sesaat setelah kerusuhan melanda Indonesia di bulan Mei 1998. Sebagai anak dari keluarga sederhana, Merry bukan saja membawa bekal materi yang minim, melainkan juga bahasa Inggris yang pas-pasan namun dengan tekad yang membara.

Saat tiba di Singapura, uang di sakunya hanya S$1,000 (Rp 7 juta). Hanya dalam waktu singkat, uang tersebut nyaris tak bersisa untuk membeli buku pelajaran yang harganya mahal dan kebutuhan sehari-hari.

Berhutang Kuliah dan Kerja

Saat diterima di NTU, dia pun terpaksa mengajukan pinjaman S$40,000 (sekitar Rp 280 juta) ke pemerintah Singapura. Itu jumlah yang amat besar untuk seorang gadis lugu namun tetap saja nilainya amat kecil untuk hidup di sebuah negara yang sangat moderen.

Dia pun terpaksa lebih sering mengonsumsi roti dan mie instant untuk mengisi perutnya sehari-hari. Sebagai gambaran, pada tahun pertama kuliah, dia harus bertahan hidup hanya dengan S$10 (Rp 70 ribu) untuk tujuh hari atau Rp 10 ribu perhari untuk makan.

Guna menambah penghasilan, di saat libur, dia bekerja paruh waktu sebagai seorang pelayan restoran (waiter), penjaga toko bunga, dan penyebar pamflet beragam produk di jalanan. Sebagai mahasiswa yang dibekali student pass, dia memang tidak mungkin bekerja di kantor.

Kondisi yang serba minim justru membuatnya bekerja keras dan pantang menyerah. Bahkan, dia berkali-kali mendapat berbagai penghargaan di kampusnya. Di akhir masa kuliah (2006), dia berhasil mendapat gelar “Winner of Nanyang Young Oustanding Alumni Award” untuk pencapaiannya yang luar biasa di bidang akademik.

Di tengah-tengah kesibukannya belajar, Merry juga menyempatkan diri aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Kegiatan ini membuatnya bisa memperluas jaringan sosial sekaligus meningkatkan kemampuannya berbahasa Inggris.

Setelah selesai kuliah, dia juga berkali-kali menemui kegagalan ketika mencoba berwirausaha. Di awal kariernya menekuni bisnis, dia kehilangan lebih dari S$10,000 (Rp 70 juta) hanya dalam waktu 30 hari saat melakukan transaksi saham. Padahal, uang itu merupakan hasil jerih payahnya selama 4 tahun bekerja saat masih kuliah.

Tak hanya itu, dalam kondisi hampir bangkrut, suatu saat dia kehilangan S$200 (Rp 1,4 juta) saat mendaftar untuk bergabung dalam bisnis MLM (Multi Level Marketing). Di luar dugaan, perusahaan MLM itu menghilang tanpa jejak. Tentu saja ,itu jumlah uang yang amat kecil bagi seorang warga Singapura namun amat berarti untuk Merry yang hanya memiliki sedikit uang di rekening.

Mereka khawatir dengan pilihan tersebut karena Merry nyaris tidak punya bekal apapun, khususnya tiga syarat utama untuk terjun ke dunia bisnis: modal, relasi, dan keahlian. Modal uang bisa dibilang nol, relasi yang dimilikinya hanya jaringan teman-teman kampus, plus keahlian di bidang elektro. Di luar itu, dia masih harus menanggung utang Rp 280 juta kepada pemerintah Singapura.

Namun, tekad dan niat membahagiakan orangtua ternyata mampu mengalahkan semua rintangan. Maka, dengan gagah berani seperti seekor rajawali, dia pun terbang untuk menjemput mimpinya di langit. Dia ingin menjadi orang luar biasa sehingga harus siap dengan cobaan yang juga luar biasa.

Sebagai gambaran, di Singapura, sarjana S-1 yang baru lulus hanya mendapat gaji sekitar S$2,500 (Rp 17,5 juta), suatu jumlah yang relatif kecil untuk standar hidup di negara yang memiliki biaya hidup yang tinggi. Sebab, seorang pekerja harus membayar 20 persen dari gajinya untuk CPF (Contributions Payable for Singapore Citizens atau tabungan wajib untuk hari tua), juga S$1,000 (Rp 7 juta) untuk biaya hidup (makan, akomodasi, transportasi, biaya telepon genggam, dan lain-lain).

Padahal, dia bertekad mengirim S$500 (Rp 3,5 juta) untuk orangtuanya di Jakarta. Otomatis, setiap bulan, uang di kantong hanya tersisa S$500 untuk membayar pinjaman. Dengan bunga 4 persen per tahun, sedikitnya diperlukan waktu 10 tahun untuk melunasi hutangnya ke pemerintah Singapura.

Belajar Wirausaha

Karena itu, setelah lulus kuliah, dia langsung terjun ke dunia wirausaha sebagai tenaga sales (penjualan) dalam bidang Financial Consultancy (Konsultasi Keuangan). Hanya bermodal waktu dan tekad untuk bekerja keras; 14 jam sehari, 7 hari seminggu, dan nyaris 365 hari dalam setahun. Di saat yang sama, dia menambah pengetahuannya tentang bisnis, baik dengan membaca buku, mengikuti seminar maupun bertanya kepada orang-orang yang ahli di bidangnya.

Maka, dia pun mulai mencari klien yang berniat melakukan investasi, membeli polis asuransi, dan menabung secara regular (fixed deposit). Hasilnya tidaklah sia-sia. Dalam waktu 6 bulan, peraih gelar “Winner of Nanyang Young Oustanding Alumni Award 2006” ini mampu melunasi hutang sebesar Rp 280 juta.

Dalam waktu 1 tahun, dia berhasil mengumpulkan modal untuk mulai merekrut staf penjualan sekaligus mulai membangun tim impian (The Dream Team). Tim inilah yang menjadi cikal bakal Merry Riana Organization (MRO), perusahaan yang bergerak di bidang Konsultasi Keuangan.

Perusahaan ini pula yang kemudian memberinya kekayaan Rp 7 milyar, hanya 4 tahun setelah lulus dari NTU, saat usianya baru 26 tahun. Dengan begitu, dia pun mewujudkan mimpinya untuk membahagiakan orangtua; mencukupi berbagai kebutuhan mereka dengan kualitas terbaik dan secara rutin mengajak mereka berwisata untuk mendatangi tempat-tempat yang menyenangkan, baik di dalam maupun luar negeri